ow

Minggu, 29 Desember 2013

Makalah agama kristen Pengendalian Diri


KATA PENGANTAR
            Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan yang maha esa atas anugrah dan rahmatnya yang berlimpah,sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan teori 9 buah roh khususnya dalam ‘’PENGENDALIAN DIRI’’ tepat pada waktunya.
            Terimah kasih penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah teori 9 buah roh ‘’PENGENDALIAN DIRI’’.
            Penulis berharap dengan materi yang di cantumkan dalam makalah ini,pembaca mampu memahaminya dengan baik dan memberikan manfaat bagi kita semua.Dalam hal ini mampu memberikan wawasan kita lebih baik lagi tentang materi 9 buah roh mengenai pengendalian diri.Memang makalah ini jauh dari sempurna,oleh karena itu penulis menghimbau kepada pembaca mohon kiranya memberikan saran maupun kritik yang membangun agar ke depannya menjadi lebih baik lagi.

Yogyakarta 18 september 2013
                                                             


                                                                                                         Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………….....1
      I.            BAB I PENDAHULUAN………………………………………………3
·       LATAR BELAKANG…………………………………………….3
·       TUJUAN…………………………………………………………...3-4
·       PENDEKATAN ………………………………………………….4
·       TINJAUAN TEOLOGI SEBAGAI MAHASISWA KRISTEN……………………………………………………………4-5
   II.            BAB II PENGUASAAN DIRI…………………………………………6
A.  PRINSIP-PRINSIP DALAM MENGENDALIKAN DIRI……………………………………………………………………..10-11
B.   FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONTROL DIRI……………………………………………………………………..11-12
C.   5 KOMPONEN YANG HARUS ADA DALAM PENGENDALIAN DIRI……………………………………………12-13
III.            BAB III PENUTUP………………………………………………………14
A.  KESIMPULAN………………………………………………..14
B.   SARAN…………………………………………………………..14
C.   DAFTAR PUSTAKA………………………………………….15




BAB I
PENDAHULUAN
·         LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari hari sering kita temui berbagai macam situasi dan kondisi yang perlu di atasi dengan baik, tidak semudah membalik telapak tangan untuk mengatasinya, oleh sebab itu pada kesmpatan ini saya akan membahas salah satu faktor yang sulit untuk saya kuasai dalam diri saya.
         Galatia 5:22-23 Tetapi buah Roh ialah: Kasih, Suka cita, Damai sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan, Kesetiaan, Kelemahlembutan, Penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

      Firman ini ternyata adalah fundamen dasar pada prinsip hidup dan pola pikir positif. Banyak orang di dunia memaparkannya secara panjang lebar di buku, koran dan majalah dalam bentuk tulisan tulisan berisi pendangan positif dan motivasi, otobiografi, kisah sukses yang nyata hingga rubrik tanya jawab di televisi dalam bentuk reality show, entertain edukatif dan konstukitf dan lain lain. Di radio dalam acara dialog dan siaran lainnya. Seminar atau kegiatan kegiatan outbond, lagu lagu hingga film dan berbagai media lainnya.
      Selain alasan industri dan perdagangan, orang orang di balik semua media tersebut sangat memahami tingkat keberhasilan prinsip-prinsip Galatia 5:22-23 dan bahkan mengalaminya secara luar biasa. Kehidupan keluarga sukses berkecukupan, damai sejahtera penuh suka cita, murah hati dan terbebas dari kejaran hukum serta dekat serta bergaul karib dan takut dengan Tuhan. Meskipun sudah sangat jarang, tapi orang-orang seperti ini masih dapat kita temui. Coba ingat ingat lagi beberapa orang yang pernah kita temui atau kenal secara pribadi.
      Penyebab kesuksesnnya adalah menghindar tanpa kompromi terhadap apa yang tertulis di Galatia 5:19-21 dan pengenalan secara utuh juga kuat serta menyadari dengan sunggh-sungguh apa yang tertulis di Galatia 5:22-23 dan menerapkannya dalam sikap dan pola pikir serta prinsip hidup positif yang takut akan Tuhan.


·         TUJUAN
Bertujuan agar menjadikan diri saya lebih baik dalam pengendalian diri khususnya tentang hawa nafsu , dan semoga dapat membantu orang yang membaca makalah ini.

·         PENDEKATAN
Galatia 5:22-23 Tetapi buah Roh ialah: Kasih, Suka cita, Damai sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan, Kesetiaan, Kelemahlembutan, Penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

I.                    TINJAUAN TEOLOGI SEBAGAI MAHASISWA KRISTEN
Tinjauannya di mulai dari:
Ø  Menurut alkitab penguasaan diri (bahasa Yunani: prautes, bahasa Latin: modestia, bahasa Inggris: gentleness, meekness, modesty).
Kata Yunani "egkrateia" [engkrateia] bermakna "mempunyai kuasa atas" (kata dasar "krat-" seperti pada kata "demokrat", yang berarti "pemerintahan"), atau "kepemilikan atas kelakuan sendiri."[16] Kata yang sama dipergunakan oleh rasul Petrus dalam suratnya yang kedua pasal 1:5-7

"Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.

Ø  Contoh Sikap Dan Perilaku Pengendalian Diri :
1. Dalam Keluarga
- Hidup sederhana dan tidak suka pamer harta kekayaan dan kelebihannya.
- Tidak mengganggu ketentraman anggota keluarga lain.
- Tunduk dan taat terhadap aturan serta perintah orang tua.
2. Dalam Masyarakat
- Mencari sahabat sebanyak-banyaknya dan membenci permusuhan
- Saling menghormati dan menghargai orang lain
- Mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi
- Mengikuti segara aturan yang berlaku dalam masyarakat
3. Dalam Lingkungan Sekolah Dan Kampus
- Patuh dan taat pada peraturan di sekolah
- Menghormati dan menghargai teman, guru, karyawan, dll
- Berani mengatakan tidak pada ajakan dan paksaan tawuran pelajar / tawuran mahasiswa serta perbuatan tercela
- Hidup penuh kesederhanaan, tidak sombong dan gengsian























BAB II


PENGUASAAN DIRI


2 Timotius 4:5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!


Menjelang akhir jaman, ada begitu banyak orang tidak lagi memiliki kasih, tidak dapat menerima ajaran sehat, akan lebih mementingkan diri sendiri, serakah, tidak menyukai lagi ajaran mengenai kebenaran dan lebih suka mendengar dongeng yang bisa memuaskan hawa nafsu mereka dan lain sebagainya. Orang-orang yang seperti itu akan berusaha juga untuk mengajak orang benar melakukan apa yang mereka lakukan dan sebisa mungkin mereka berusaha untuk menyesatkan orang benar. Menjelang akhir jaman, ada begitu banyak orang tidak lagi menyadari keadaan lingkungan sekitarnya dan tidak lagi menyadari keadaan dirinya serta tidak menguasai diri.

Rasul Paulus mengingatkan kita dan berkata agar dapat menguasai diri dalam segala hal. Menguasai diri dimaksud adalah agar kita sebagai Umat Tuhan tidak terlena dengan keadaan dunia ini dan tetap sadar bahwa di sekeliling kita ada begitu banyak bahaya yang dapat mengancam jiwa kita. Kita harus menyadari bahwa hidup kekristenan itu harus siap untuk hidup menderita dan tidak menjadi sama dengan dunia ini sehingga dapat membedakan manakah kehendak Tuhan: apa yang baik, yang berkenan kepada Tuhan dan yang sempurna. (Roma 12:2). Kita bukanlah orang-orang yang lagi mabuk, tetapi kita adalah orang-orang yang selalu berjaga-jaga dan selalu waspada.

Menguasai diri memang diperlukan di dalam kehidupan ini sehingga kita tidak jatuh ke dalam pencobaan. Petrus mengatakan dan mengingatkan bahwa ketika kita menghadapi suatu permasalahan, ketika kita menghadapi suatu pencobaan dan ketika kita menghadapi suatu penderitaan, kita harus dapat menguasai diri dan menjadi tenang agar kita dapat berdoa (1 Petrus 4:7). Namun yang terjadi dalam kehidupan umat Tuhan adalah sebaliknya, ada begitu banyak orang tidak menyadari dirinya dan tidak menguasai diri alias mabuk. Ada begitu banyak orang mengalami mabuk cinta kepada seorang perempuan atau lelaki sehingga berusaha menaklukkan lawan jenisnya dengan berbagai cara untuk sebuah cinta. Ada begitu banyak orang mengalami mabuk harta sehingga tidak peduli bagaimana sebuah harta diperoleh asal bisa menjadi kaya. Ada begitu banyak orang mengalami yang namanya mabuk jabatan sehingga jabatan menjadi salah satu tujuan hidup yang harus dicapai. Ketika seseorang dimabuk cinta, dimabuk harta dan dimabuk jabatan, dia tidak akan dapat menguasai diri apabila menghadapi sebuah masalah. Orang akan merasa kelimpungan dan menjadi putus asa ketika menghadapi kenyataan pujaan hatinya kawin dengan orang lain. Orang akan merasa gagal dalam hidup ketika menghadapi suatu kenyataan bahwa harta bendanya ludes disita pengadilan dan jatuh miskin. Orang akan mengalami serangan jantung ketika menghadapi kenyataan bahwa jabatan yang saat ini ada padanya dicopot dan diberhentikan dari pekerjaannya, dan lain sebagainya. Tidak ada penguasaan diri karena mabuk harta, wanita dan jabatan. Namun kita patut bersyukur kalau pada saat ini kita diingatkan kembali agar dapat menguasai diri dan menjadi tenang sehingga dapat berdoa dalam upaya mencari wajahNya Tuhan dan mencari kekuatanNya. Ketika kita menghadapi masalah seberat apapun, kuasailah dirimu dan jadilah tenang serta mintalah kekuatan kepada Tuhan sehingga kita akan diberikanNya jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapi.


Penguasaan Diri Mendorong Kita Untuk Mengasihi Allah
Penguasaan diri beda dengan disiplin. Orang disiplin akan berkata, saya perlu mendisiplin diri untuk tidak berbuat itu (menahan). Sedangkan orang yang menguasai diri tidak melakukan hal yang jelas tidak baik atau tidak perlu karena didorong oleh motivasi yaitu mengasihi Allah. Jadi orang ini rela tidak melakukan sesuatu yang secara dunia nikmat karena dorongan kasihnya kepada Allah.
Penguasaan Diri Mendorong Kita Untuk Taat Kepada Allah
Penguasaan diri bukan hanya memotivasi seseorang untuk tidak melakukan hal yang sia-sia atau bertentangan dengan Allah, tetapi juga mendorong seseorang untuk mentaati perintah Allah (sekalipun enggan atau berat). Contoh: Mengampuni orang yang telah menghancurkan hidup kita adalah tindakan yang seringkali berat untuk dilakukan. Penguasaan diri akan memotivasi orang itu untuk menunjukkan kasihnya kepada Allah dengan mengampuni.
Menerapkan penguasaan diri mulai dari kehidupan keluarga, bisnis hingga masyarakat akan menolong kita untuk menjadi orang yang berhasil (sukses), karena kita terhindar untuk melakukan hal yang tidak perlu dan merugikan diri kita sendiri.
Amsal berkata orang yang tidak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. Zaman dulu setiap kota ada tembok sebagai perlindungan dari serangan musuh. Orang yang tidak dapat mengendalikan diri (menguasai diri), berarti pertahanan dirinya sudah jebol. Ciri orang seperti ini biasanya suka mengeluh dan selalu menyalahkan orang lain.






5 komponen penting yang harus ada agar fungsi pengendalian diri dapat berperan dalam menjaga konsistensi dan keberlanjutan pencapaian tujuan hidup. Lima komponen pengendalian diri dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Lingkungan pengendalian adalah fondasi bagi 4 komponen lain berpijak. Lingkungan pengendalian dapat dianalogikan sebagai komitmen pribadi yang berisi kesadaran akan pentingnya pengendalian diri demi mencapai tujuan. Kesadaran ini sama halnya dengan kesadaran yang dimiliki pelaut akan pentingnya sistem navigasi di perahunya. Derajat kesadaran tentu berbeda antara satu orang dengan orang lain. Tinggi rendahnya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut oleh yang bersangkutan. Nilai tersebut merupakan refleksi dari kematangan dan kecerdasan emosional individu. Nilai yang mempengaruhi antara lain prinsip etika/moral, filosofi dan tujuan hidup, serta kemampuan menarik pelajaran dari kesalahan. Semakin teguh prinsip etika/moral dipegang maka semakin kuat komitmen pribadi melakukan pengendalian diri. Semakin jelas filosofi dan tujuan hidup, semakin kuat pula kesadaran untuk mengendalikan diri. Semakin dalam kemampuan mencari hikmah maka semakin sadar pula akan pentingnya pengendalian diri.

2. Pengukuran Resiko (Risk Assessment)
Fungsi pengendalian diri dapat berjalan efektif apabila kita mengetahui resiko-resiko yang akan dihadapi dalam rangka mencapai tujuan hidup. Resiko ini berupa hambatan atau rintangan yang dapat membelokan atau mematahkan arah tujuan. Dengan mengidentifikasi dan mengukur resiko, maka dapat dirumuskan strategi atau prosedur pengendalian yang paling cocok untuk mengeliminasi hambatan atau rintangan yang membuat tujuan hidup menyimpang. Misalnya, jika ingin mencari istri yang sholehah maka jangan mencari di tempat hiburan. Bila mencari di tempat hiburan, resikonya mungkin dapat wanita yang tidak jelas statusnya atau bahkan justru tidak jadi mencari istri. Sama halnya dengan nahkoda, dengan mengetahui resiko badai dan gelombang tinggi yang dapat mengkaramkan kapal, dapat diputuskan apakah harus mencari jalur pelayaran lain untuk menghindari badai atau menunda perjalanan hingga badai berlalu. Resiko yang terukur secara tepat memungkinkan prosedur dan strategi pengendalian diri dibuat lebih efektif dalam mengeliminasi resiko.

3. Informasi dan Komunikasi (Information and Comunication)
Ketersedian informasi penting untuk menjalankan fungsi pengendalian diri. Bagaimana mungkin kita dapat memilih diantara beberapa pilihan mana yang sesuai dengan tujuan hidup jika kita tidak memiliki ketersediaan informasi yang cukup pada masing-masing pilihan. Informasi tersebut mungkin tidak otomatis tersedia dihadapan kita, tapi harus ada upaya untuk menggali informasi tersebut lebih dalam. Fungsi pengendalian diri menjadi efektif dalam memandu pilihan dan pencapaian hidup ketika tersedia informasi yang relevan pada masing-masing pilihan dan pencapaian. Pilihan atau alternatif manakah yang tidak mengkhianati tujuan hidup? Sebagai contoh ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan membeli mobil A atau mobil B. Dengan kecukupan informasi mengenai karakteristik masing-masing mobil, tentu tidak sulit untuk memilih yang sesuai untuk tujuan membeli mobil meskipun hasrat hati lebih cenderung ke salah satunya.
Komunikasi juga terkait dengan informasi, yaitu bagaimana menyampaikan informasi yang dimiliki kepada pihak lain. Dalam konteks pengendalian diri, perlu disadari pentingnya menjalin komunikasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan keputusan yang dibuat (stakeholder). Mengambil contoh di atas, apabila telah diputuskan membeli mobil A, maka perlu dikomunikasikan alasannya kepada keluarga agar tidak terjadi perdebatan atau perselisihan yang tidak perlu akibat keputusan tersebut.

4. Aktivitas Pengendalian (Control Activities)
Keberhasilan fungsi pengendalian diri juga ditentukan oleh bagaimana pengendalian diri tersebut dilakukan. Dalam berbagai skala resiko penyimpangan tujuan hidup, tentu aktivitas pengendalian yang diterapkan berbeda-beda. Situasi dengan resiko yang tinggi tentu membutuhkan intensitas atau teknik pengendalian diri yang lebih dibanding dengan situasi dengan resiko rendah. Sebagai contoh katakanlah ada seorang anak memiliki tujuan hidup tidak mau terjerumus pada kenakalan remaja. Jika anak tersebut di sekolahkan di sekolah umum, tentu dia harus mulai membatasi pergaulan dengan teman sekolah, pulang sekolah langsung pulang, fokus belajar, dan sebagainya. Sementara bila disekolahkan di madrasah mungkin dia cukup hanya menfokuskan diri bagaimana belajar dengan baik saja. Hal ini menunjukan perlunya ditentukan teknik dan aktivitas pengendalian diri yang paling sesuai dalam rangka menghadapi berbagai skala resiko penyimpangan tujuan hidup. Dengan aktivitas yang tepat maka fungsi pengendalian diri akan efektif menjaga pencapaian tujuan hidup.

5. Pemantauan (Monitoring)
Komponen ini menekankan pentingnya evaluasi terhadap fungsi pengendalian diri yang telah dijalankan. Apakah pengendalian diri yang dijalankan sudah sesuai dengan yang diharapkan? Apakah pengendalian diri sudah mampu membimbing jalan hidup kita kepada tujuan hidup? Evaluasi ini ditujukan untuk mencari kekurangan dan kelemahan dari fungsi pengendalian diri guna perbaikan di masa yang akan datang. Kesalahan yang ada harus dibetulkan, dan kelemahan yang tampak harus dihilangkan. Apabila komponen ini dapat dilakukan secara kontinyu dari waktu ke waktu maka harapannya fungsi pengendalian diri juga akan semakin baik.

Lima komponen diatas hanyalah sedikit diantara banyak faktor yang mempengaruhi bagaimana pengendalian diri mampu menjaga arah tujuan hidup.



A. Prinsip-prinsip dalam mengendalikan diri
1.      Prinsip kemoralan. Setiap agama pasti mengajarkan moral yang baik bagi setiap pemeluknya, misalnya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menipu, tidak berbohong, tidak mabuk-mabukan, tidak melakukan tindakan asusila maupun tidak merugikan orang lain. Saat ada dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang negatif, maka kita dapat bersegera lari ke rambu-rambu kemoralan. Apakah yang kita lakukan ini sejalan atau bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama? Saat terjadi konflik diri antara ya atau tidak, mau melakukan atau tidak, kita dapat mengacu pada prinsip moral di atas.
2.      Prinsip kesadaran. Prinsip ini mengajarkan kepada kita agar senantiasa sadar saat suatu bentuk pikiran atau perasaan yang negatif muncul. Pada umumnya orang tidak mampu menangkap pikiran atau perasaan yang muncul, sehingga mereka banyak dikuasai oleh pikiran dan perasaan mereka. Misalnya seseorang menghina atau menyinggung kita, maka kita marah. Nah, kalau kita tidak sadar atau waspada maka saat emosi marah ini muncul, dengan begitu cepat, tiba-tiba kita sudah dikuasai kemarahan ini. Jika kesadaran diri kita bagus maka kita akan tahu saat emosi marah ini muncul, menguasai diri kita dan kemungkinan akan melakukan tindakan yang akan merugikan diri kita dan orang lain. Saat kita berhasil mengamati emosi maka kita dapat langsung menghentikan pengaruhnya. Jika masih belum bisa atau dirasa berat sekali untuk mengendalikan diri, maka kita dapat melarikan pikiran kita pada prinsip moral.
3.      Prinsip perenungan. Ketika kita sudah benar-benar tidak tahan untuk meledakkan emosi karena amarah dan perasaan tertekan, maka kita bisa melakukan sebuah perenungan. Kita bisa menanyakan pada diri sendiri tentang berbagai hal, misalnya apa untungnya saya marah, apakah benar reaksi saya seperti ini, mengapa saya marah atau apakah alasan saya marah ini sudah benar. Dengan melakukan perenungan, maka kita akan cenderung mampu mengendalikan diri. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa saat emosi aktif maka logika kita tidak jalan, sehingga saat kita melakukan perenungan atau berpikir secara mendalam maka kadar kekuatan emosi atau keinginan kita akan cenderung menurun.
4.      Prinsip kesabaran. Pada dasarnya emosi kita naik – turun dan timbul, tenggelam. Emosi yang bergejolak merupakan situasi yang sementara saja, sehingga kita perlu menyadarinya bahwa kondisi ini akan segera berlalu seiring bergulirnya waktu. Namun hal ini tidaklah mudah karena perlu adanya kesadaran akan kondisi emosi yang kita miliki saat itu dan tidak terlalu larut dalam emosi. Salah satu cara yang perlu kita gunakan adalah kesabaran, menunggu sampai emosi negatif tersebut surut kemudian baru berpikir untuk menentukan respon yang bijaksana dan bertanggung jawab (reaksi yang tepat).
5.      Prinsip pengalihan perhatian. Situasi dan kondisi yang memberikan tekanan psikologis sering menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran yang cukup banyak bagi seseorang untuk menghadapinya. Apabila berbagai cara (4 prinsip sebelumnya) sudah dilakukan untuk berusaha menghadapi namun masih sulit untuk mengendalikan diri, maka kita bisa menggunakan prinsip ini dengan menyibukkan diri dengan pikiran dan aktifitas yang positif. Ketika diri kita disibukkan dengan pikiran positif yang lain, maka situasi yang menekan tersebut akan terabaikan. Begitu pula manakala kita menyibukkan diri dengan aktifitas lain yang positif, maka emosi yang ingin meledak akibat peristiwa yang tidak kita sukai tersebut akan menurun bahkan hilang. Saat kita berhasil memaksa diri memikirkan hanya hal-hal yang positif maka emosi kita akan ikut berubah kearah yang positif juga.


  B. Faktor-faktor yang mempengaruhi kontrol diri
1.       Kepribadian. Kepribadian mempengaruhi control diri dalam konteks bagaimana seseorang dengan tipikal tertentu bereaksi dengan tekanan yang dihadapinya dan berpengaruh pada hasil yang akan diperolehnya. Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda (unik) dan hal inilah yang akan membedakan pola reaksi terhadap situasi yang dihadapi. Ada seseorang yang cenderung reaktif terhadap situasi yang dihadapi, khususnya yang menekan secara psikologis, tetapi ada juga seseorang yang lamban memberikan reaksi.
2.      Situasi. Situasi merupakan faktor yang berperan penting dalam proses kontrol diri. Setiap orang mempunyai strategi yang berbeda pada situasi tertentu, dimana strategi tersebut memiliki karakteristik yang unik. Situasi yang dihadapi akan dipersepsi berbeda oleh setiap orang, bahkan terkadang situasi yang sama dapat dipersepsi yang berbeda pula sehingga akan mempengaruhi cara memberikan reaksi terhadap situasi tersebut. Setiap situasi mempunyai karakteristik tertentu yang dapat mempengaruhi pola reaksi yang akan dilakukan oleh seseorang.
3.       Etnis. Etnis atau budaya mempengaruhi kontrol diri dalam bentuk keyakinan atau pemikiran, dimana setiap kebudayaan tertentu memiliki keyakinan atau nilai yang membentuk cara seseorang berhubungan atau bereaksi dengan lingkungan. Budaya telah mengajarkan nilai-nilai yang akan menjadi salah satu penentu terbentuknya perilaku seseorang, sehingga seseorang yang hidup dalam budaya yang berbeda akan menampilkan reaksi yang berbeda dalam menghadapi situasi yang menekan, begitu pula strategi yang digunakan.
4.      Pengalaman. Pengalaman akan membentuk proses pembelajaran pada diri seseorang.  Pengalaman yang diperoleh dari proses pembelajaran lingkungan keluarga juga memegang peran penting dalan kontrol diri seseorang, khususnya pada masa anak-anak. Pada masa selanjutnya seseorang bereaksi dengan menggunakan pola fikir yang lebih kompleks dan pengalaman terhadap situasi sebelumnya untuk melakukan tindakan, sehingga pengalaman yang positif akan mendorong seseorang untuk bertindak yang sama, sedangkan pengalaman negatif akan dapat merubah pola reaksi terhadap situasi tersebut.



5.       Usia. Bertambahnya usia pada dasarnya akan diikuti dengan bertambahnya kematangan dalam berpikir dan bertindak. Hal ini dikarenakan pengalaman hidup yang telah dilalui lebih banyak dan bervariasi, sehingga akan sangat membantu dalam memberikan reaksi terhadap situasi yang dihadapi. Orang yang lebih tua cenderung memiliki control diri yang lebih baik dibanding orang yang lebih muda.

C.  5 komponen penting yang harus ada dalam pengendalian diri

1. Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Lingkungan pengendalian adalah fondasi bagi 4 komponen lain berpijak. Lingkungan pengendalian dapat dianalogikan sebagai komitmen pribadi yang berisi kesadaran akan pentingnya pengendalian diri demi mencapai tujuan. Kesadaran ini sama halnya dengan kesadaran yang dimiliki pelaut akan pentingnya sistem navigasi di perahunya. Derajat kesadaran tentu berbeda antara satu orang dengan orang lain. Tinggi rendahnya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut oleh yang bersangkutan. Nilai tersebut merupakan refleksi dari kematangan dan kecerdasan emosional individu. Nilai yang mempengaruhi antara lain prinsip etika/moral, filosofi dan tujuan hidup, serta kemampuan menarik pelajaran dari kesalahan. Semakin teguh prinsip etika/moral dipegang maka semakin kuat komitmen pribadi melakukan pengendalian diri. Semakin jelas filosofi dan tujuan hidup, semakin kuat pula kesadaran untuk mengendalikan diri. Semakin dalam kemampuan mencari hikmah maka semakin sadar pula akan pentingnya pengendalian diri.

2. Pengukuran Resiko (Risk Assessment)
Fungsi pengendalian diri dapat berjalan efektif apabila kita mengetahui resiko-resiko yang akan dihadapi dalam rangka mencapai tujuan hidup. Resiko ini berupa hambatan atau rintangan yang dapat membelokan atau mematahkan arah tujuan. Dengan mengidentifikasi dan mengukur resiko, maka dapat dirumuskan strategi atau prosedur pengendalian yang paling cocok untuk mengeliminasi hambatan atau rintangan yang membuat tujuan hidup menyimpang. Misalnya, jika ingin mencari istri yang sholehah maka jangan mencari di tempat hiburan. Bila mencari di tempat hiburan, resikonya mungkin dapat wanita yang tidak jelas statusnya atau bahkan justru tidak jadi mencari istri. Sama halnya dengan nahkoda, dengan mengetahui resiko badai dan gelombang tinggi yang dapat mengkaramkan kapal, dapat diputuskan apakah harus mencari jalur pelayaran lain untuk menghindari badai atau menunda perjalanan hingga badai berlalu. Resiko yang terukur secara tepat memungkinkan prosedur dan strategi pengendalian diri dibuat lebih efektif dalam mengeliminasi resiko.

3. Informasi dan Komunikasi (Information and Comunication)
Ketersedian informasi penting untuk menjalankan fungsi pengendalian diri. Bagaimana mungkin kita dapat memilih diantara beberapa pilihan mana yang sesuai dengan tujuan hidup jika kita tidak memiliki ketersediaan informasi yang cukup pada masing-masing pilihan. Informasi tersebut mungkin tidak otomatis tersedia dihadapan kita, tapi harus ada upaya untuk menggali informasi tersebut lebih dalam. Fungsi pengendalian diri menjadi efektif dalam memandu pilihan dan pencapaian hidup ketika tersedia informasi yang relevan pada masing-masing pilihan dan pencapaian. Pilihan atau alternatif manakah yang tidak mengkhianati tujuan hidup? Sebagai contoh ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan membeli mobil A atau mobil B. Dengan kecukupan informasi mengenai karakteristik masing-masing mobil, tentu tidak sulit untuk memilih yang sesuai untuk tujuan membeli mobil meskipun hasrat hati lebih cenderung ke salah satunya.
Komunikasi juga terkait dengan informasi, yaitu bagaimana menyampaikan informasi yang dimiliki kepada pihak lain. Dalam konteks pengendalian diri, perlu disadari pentingnya menjalin komunikasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan keputusan yang dibuat (stakeholder). Mengambil contoh di atas, apabila telah diputuskan membeli mobil A, maka perlu dikomunikasikan alasannya kepada keluarga agar tidak terjadi perdebatan atau perselisihan yang tidak perlu akibat keputusan tersebut.

4. Aktivitas Pengendalian (Control Activities)
Keberhasilan fungsi pengendalian diri juga ditentukan oleh bagaimana pengendalian diri tersebut dilakukan. Dalam berbagai skala resiko penyimpangan tujuan hidup, tentu aktivitas pengendalian yang diterapkan berbeda-beda. Situasi dengan resiko yang tinggi tentu membutuhkan intensitas atau teknik pengendalian diri yang lebih dibanding dengan situasi dengan resiko rendah. Sebagai contoh katakanlah ada seorang anak memiliki tujuan hidup tidak mau terjerumus pada kenakalan remaja. Jika anak tersebut di sekolahkan di sekolah umum, tentu dia harus mulai membatasi pergaulan dengan teman sekolah, pulang sekolah langsung pulang, fokus belajar, dan sebagainya. Sementara bila disekolahkan di madrasah mungkin dia cukup hanya menfokuskan diri bagaimana belajar dengan baik saja. Hal ini menunjukan perlunya ditentukan teknik dan aktivitas pengendalian diri yang paling sesuai dalam rangka menghadapi berbagai skala resiko penyimpangan tujuan hidup. Dengan aktivitas yang tepat maka fungsi pengendalian diri akan efektif menjaga pencapaian tujuan hidup.

5. Pemantauan (Monitoring)
Komponen ini menekankan pentingnya evaluasi terhadap fungsi pengendalian diri yang telah dijalankan. Apakah pengendalian diri yang dijalankan sudah sesuai dengan yang diharapkan? Apakah pengendalian diri sudah mampu membimbing jalan hidup kita kepada tujuan hidup? Evaluasi ini ditujukan untuk mencari kekurangan dan kelemahan dari fungsi pengendalian diri guna perbaikan di masa yang akan datang. Kesalahan yang ada harus dibetulkan, dan kelemahan yang tampak harus dihilangkan. Apabila komponen ini dapat dilakukan secara kontinyu dari waktu ke waktu maka harapannya fungsi pengendalian diri juga akan semakin baik.

Lima komponen diatas hanyalah sedikit diantara banyak faktor yang mempengaruhi bagaimana pengendalian diri mampu menjaga arah tujuan hidup.






BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Pengendalian diri sangat di butuhkan pada diri manusia, karena tanpa pengendalian diri manusia bisa hancur. Saat manusia berada di atas, saat manusia berada di bawah manusia harus bisa mengendalikan dirinya. Jika manusia berada di bawah dan tidak ada pengendalian diri, maka kehidupannya tidak akan bertambah baik, malah semakin hancur. Begitu juga saat manusia berada diatas jika tidak ada pengendalian diri bisa jatuh.
Sebagai ilustrasi jika manusia berada di bawah pasti akan merasa susah untuk mewujudkan keinginannya,bahkan tidak bisa, jika tidak ada pengendalian diri maka bisa saja mengambil jalan pintas dan berbuat kejahatan, jika sudah berbuat kejahatan sudah pasti hidupnya semakin hancur. Begitu juga dengan manusia jika sudah berada di atas (sudah sukses) jika tidak ada pengendalian diri, maka dia bisa jatuh kembali. Terkadang manusia jika sudah sukses banyak keinginannya, karena dia merasa mampu, seperti ingin mempunyai rumah mewah, mobil mewah bahkan yg negatif memboroskan uangnya untuk yang tidak perlu, main judi misalnya, ini pasti akan membawa manusia tersebut kembali pada kehancuran.
Pada dasarnya sifat manusia tidak pernah puas, tetapi harus di imbangi oleh pengendalian diri, dengan adanya pengendalian diri bisa membawa kita lebih maju lagi. Dengan adanya pengendalian diri di dalam diri kita, hidup kita akan lebih tenang.



B. Saran
Sadarilah setiap perkataan Dan SIKAP Yang keluar Bahasa Dari Dalam, Diri ". Legakan / Lapangkanlah dadamu setiap Sisi Kehidupan Yang Kau lalui". Janganlah pernah mengumbar Nafsu . JANGAN pernah merasa Bisa mengendalikan sesuatu sebelum kita  mampu mengendalikan keinginan Dan Hawa nafsu kitd SENDIRI". Dan JANGAN mengatakan pengendalian Yang BAIK Bila tak jelas siapa Pengendali Dan pembimbingnya ". Takkan ADA pengendali Yang BAIK selain Bahasa Dari Tuhan.
C. DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar